Daerah  

Salat Idul Adha di Kota Tebingtinggi, Prof Ansari: Ibadah Kurban Komitmen Kepatuhan Atas Perintah Allah

Salat Idul Adha di Kota Tebingtinggi, Prof Ansari: Ibadah Kurban Komitmen Kepatuhan Atas Perintah Allah
Prof Dr H Ansari Yamamah MA saat sebagai Khatib Salat Idul Adha 1444 H di Kota Tebingtinggi. (Foto: AS)

Tebingtinggi-Skalanews | Pemerintah Kota Tebingtinggi bersama masyarakat muslimin, melaksanakan salat Idul Adha di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi. Bertindak sebagai imam H. Fadlan Syahputra Purba, S.Pd.i dan Khatib Prof Dr H Ansari Yamamah, MA.

Salat Idul Adha yang di gelar Pemerintah Kota Tebingtinggi turut dihadiri Pj Walikota Tebingtinggi Drs Syarmadani MSi, Plh Sekretaris Daerah H Kamlan Mursyid SH MM beserta pejabat dilingkungan Pemko Tebingtinggi, anggota TNI/Polri dan kaum muslimin lainnya.

Prof Dr H Ansari Yamamah sebagai Khatib Salat Idul Adha dalam khotbahnya menyampaikan makna ibadah haji dan pesan di balik pelaksanaan perintah berkurban.

“Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima, ibadah yang bukan hanya bertumpu pada kemampuan materi semata, membutuhkan fisik dan juga kekuatan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Prof Ansari dalam khotbahnya di hadapan jamaah yang memenuhi Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi, Kamis (29/6/2023)

Di samping itu, lanjut Prof Ansari, Ibadah haji juga sebagai pengakuan kelemahan sebagai hamba di hadapan Allah SWT, tanpa melihat status sosial.

“Ibadah haji merupakan manifestasi bentuk kesadaran dan ketaatan akan perintah Allah, sekaligus penyempurnaan rukun Islam. Hal terpenting dari pelaksanaan ibadah haji ini adalah hilangnya sekat-sekat status sosial masing-masing, karena kita disibukkan dengan ibadah dan berharap ibadah tersebut menjadi haji yang mabrur,” ujar Founder Islam Transitif ini.

Di samping itu, dijelaskan Dosen Pascasarjana UIN SU ini, perayaan Idul Adha juga ditandai dengan penyembelihan hewan kurban, sebagai bentuk kepatuhan atas perintah Allah dan saling peduli kepada sesama.

“Salah satu ibadah yang disunah muakkad bagi mereka yang mampu agar berkurban, sebagai bentuk kepatuhan akan perintah Allah, dan sebagai komitmen tanda kesyukuran atas rezeki yang didapat, inilah bentuk korelasi kesalehan sosial dan kesalehan spiritual yang membentuk pribadi muslim yang baik,” ungkap Datuk Pandya Wangsa ini tegas.

Disamping itu, lanjut peneliti produktif UIN SU ini, bahwa dari peristiwa kurban yang dijalani oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, seharusnya setiap muslim dapat menginternalisasikan nilai-nilai ibadah kurban dalam upaya memaksimalkan peran kekhalifahannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Setidaknya ada empat hal yang menjadi simbolisasi makna kurban ini di antaranya, setiap kita adalah seorang mujahid kemanusiaan yang memiliki integritas dengan sikap yang istikamah, berani, jujur dan adil dalam menegakkan kebenaran dan mencegah berbagai kemungkaran,” ujar Guru Besar Bidang Sosiologi Hukum Islam ini.

Selanjutnya pesan yang tersirat dalam perintah berkurban tersebut berani berkorban atas dasar kecintaan pada perintah Allah.

“Maksud dari perintah ini bahwa apa yang kita miliki seperti harta, jabatan, pangkat, keluarga dan sebagainya merupakan simbol yang kadangkala kita terlena, sehingga lupa akan tanggung jawab akhirat, artinya keduniawian ini jangan membuat terlena sehingga kepentingan akhirat terlupakan,” ujar Prof Ansari.

Sejatinya, ibadah kurban juga sebagai simbol kedermawanan dan bentuk pengabdian kepada umat manusia. Sebab kedermawanan dan pengabdian ini sebagai bukti bahwa seseorang menemukan realitas dirinya yang juga peduli pada orang lain.

“Dan pesan keempat bahwa ada dialog spiritual dua generasi yang berbeda, yang saling menguatkan atas dasar keimanan dan ketakwaan atas perintah Allah. Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ada nilai kepatuhan dan hormat atas nasihat yang disampaikan dengan sikap, adab dan sopan santun sehingga memberikan keteladanan di antaranya, dan inilah yang hilang saat ini, bahwa dialog konstruktif ini perlu dihidupkan dalam berkeluarga, bertetangga dan sebagainya agar tersambung silaturahmi yang saling menguatkan, saling merangkul dan bukan memukul,” sambung Tokoh Melayu di akhir khotbahnya. SN-AS