Kampus  

Sakhban Siregar Lulus Sarjana Mau S2

Sakhban Siregar Lulus Sarjana Mau S2
Sakhban Siregar berhasil gapai gelar sarjana. Foto: SN|amir syam

MedanSkalanews: Sakhban Siregar, satu dari 2.509 wisudawan jenjang Strata 1 dan Doktoral Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Jumat (19/11) di Kampus I UINSU Jalan Sutomo Medan.

Sakhban Siregar tercatat sebagai alumni Fakultas Syari’ah dan Hukum, program studi Ahwalul Syakhsiyah ini berbeda dari para wisudawan lainnya.

Maklum, pria lajang ini hanya memiliki tinggi tubuh 90 centimeter. Keterbatasan fisiknya tidak membuat kendala penyelesaian studinya.

BACA JUGA: Syahban Siregar Anak Padangbolak, Calon Sarjana UIN Sumut

Kata Sakhban, kiatnya sabar dan ikhlas menjalani kehidupan, sembari terus bermohon kepada Allah SWT, agar dimudahkan segala urusan.

“Alhamdulillah, akhirnya studi sarjana saya selesai, dan ini membuktikan bahwa kekurangan saya secara fisik tidak menghambat cita-cita saya untuk menjadi sarjana, sejak tujuh tahun lalu meninggalkan kampung halaman di Padangbolak untuk meraih impian menjadi seorang sarjana”, ucap Sakban Siregar di sela percakapan, saat menghadiri acara wisuda secara virtual.

Ceritanya, putra pasangan Baginda Rongkaya Siregar dan Sitiolo Harahap, memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan studi ke Medan. Setelah selesai belajar di Pondok Pesantren Purba Sinomba Gunungtua sejak Tsanawiyah hingga Aliyah, akhirnya Sakhban memutuskan untuk mengikuti tes masuk UIN Sumatera Utara dan akhirnya diterima.

“Saya masuk di UIN tahun 2014 dan diterima di Fakultas Syari’ah jurusan Ahwalul Syakhsiyah, memang di awal kuliah ada rasa minder, karena fisik saya yang berbeda dari kawan-kawan lainnya, namun rasa minder itu saya lawan, motivasi saya hijrah ke Medan ini untuk meraih cita-cita sebagai seorang sarjana, akhirnya rasa minder itu hilang seiring berjalannya waktu dan ternyata banyak kawan-kawan memberi support,” kenangnya kepada Amir Syam dari Skalanews.

Sakhban Siregar tidak mengenal rumah kos yang mewah. Selama kuliah dia tinggal di Musala Siti Hawa, di Jalan Sidorukun, Gang Sidioleng, sebagai muazin dan guru les mengaji.

Dia berterimakasih atas dukungan dan support orangtua angkatnya, yang setia membantu untuk studinya selama ini, sahabat yang selalu setia menjemput dan mengantar pulang pergi ke kampus.

Pemilik IPK 3.47 ini berhasil mempertahankan skripsinya dengan judul Standarisasi Penggunaan Pengeras Suara Masjid, Ditinjau Menurut Instruksi Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) dan Realisasinya Pada Beberapa Masjid di Kelurahan Pulobrayan Darat II, Kecamatan Medan Timur.

Sakhban Siregar kelihatannya tidak membedakan capaian gelar sarjana S1 nya. “Saya berkeinginan meneruskan studi Pascasarjana, Insya Allah karena itu merupakan keinginan sekaligus membuktikan bahwa kekurangan fisik maupun keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan untuk tidak terus belajar, selama ada kemauan,” terang Sakhban. SN-W16