Medan  

Respons MPTTI Pada Focus Group Discussion MUI Sumatera Utara

Respons MPTTI Pada Focus Group Discussion MUI Sumatera Utara
Ustaz Abdul Majid Amar, SH.I. (Foto: AS)

Medan-Skalanews | Diskursus tentang keberadaan pengajian Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTTI) di Sumatera Utara, hingga saat menjadi topik pembahasan. Pascadilarangnya kegiatan Muzakarah MPTTI tingkat ASEAN yang diikuti beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunai Darussalam, serta beberapa negara lainnya seperti Australia dan Turki.

Namun kegiatan muzakarah internasional ketujuh di Kota Medan, akhirnya gagal dilaksanakan, disebabkan adanya rekomendasi atau permintaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kepada pihak keamanan, yang intinya melarang kegiatan Muzakarah dan Zikir Akbar Internasional dengan alasan yang tidak jelas.

Berbagai upaya dialog sudah dilakukan MPTTI dan sudah dijelaskan secara rinci terkait kajian MPTTI yang dianggap MUI Sumut meresahkan. Namun upaya dialog tersebut menemui jalan buntu hingga adanya proses gugat secara hukum oleh MPTTI terhadap MUI Sumut, yang proses sidangnya sedang berjalan.

BACA JUGA: Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia Untuk Menguatkan Agama Islam

Beberapa waktu lalu, MUI Sumut lewat Badan Kajian dan Penelitian MUI Sumut yang dipimpin Prof Dr Fachruddin Azmi mengundang majelis penggiat Thariqoh untuk berdiskusi pada forum diskusi terbatas atau Focus Group Discussion (FGD), yang menghasilkan beberapa rekomendasi.

Salah seorang pengurus MPTTI Sumut, Ustaz Abdul Majid Amar, SH.I ikut memberikan beberapa catatan terkait rekomendasi FGD MUI Sumut.

“Pendapat Tuan Guru Babussalam saat ditanya pandangan beliau tentang MPTTI terkait tafsir ‘Muhammad itu Allah’, maka dapat kami jawab bahwa pernyataan Abuya Syekh Amran Waly mengatakan ‘Muhammad itu Allah’ adalah memandang pada hakikat Muhammad yaitu pada ‘Adam mahadh, bahwa wujud Muhammad itu belum ada,” ujar penggiat Thariqoh ini tegas kepada media, selasa (22/8/2023).

Ditambahkan mubalig muda ini, bahwa hal ini bukanlah tidak beralasan. Pendapat Abuya Amran Waly sesuai dengan pendapat Syekh Abdul Karim Al Jili dalam kitab Al-Insan Kamil ketika menafsirkan surat Al-Ikhlas.

“Di dalam kitab Tuhfatul Mursalah halaman 9 menjelaskan: Adapun dari segi hakikat, maka segala yang maujud adalah Al-Haq Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Ustaz Majid.

Kemudian pernyataan Prof. Dr. Muzakkir MA. yang menyatakan bahwa ‘Siapa yang bertasawuf tetapi tidak menjalankan fikih adalah zindiq, siapa yang melaksanakan fikih tetapi tidak bertasawuf adalah fasik dan siapa yang menggabungkan keduanya adalah tahqiq’.

“Pendapat Imam Malik seperti yang disampaikan Prof Muzakir, ini tentunya kami dari MPTTI sangat setuju, dan inilah yang disampaikan Abuya Amran Waly Al-Kholidi kepada jemaahnya,” sambung alumni UIN Sumut ini.

Hal lain, sambung dai murah senyum ini, tentang pernyataan Prof. Dr. Hasan Bakti yang mengatakan bahwa MPTTI jelas salah jika MPTTI menceritakan bahwa Muhammad itu Allah disampaikan ke mana-mana.

“Kami jawab bahwa kami tidak pernah menyampaikan kajian yang dimaksudkan ke mana-mana, termasuk pengajian ataupun majelis taklim yang lain. Namun justru permasalahan ini berawal dari Pra Muzakarah yang kami lakukan di Asrama Haji dan kami menceritakan ini di hadapan para ulama, baik dari ulama yang ada di instansi pemerintahan maupun ulama yang lain.

Sebab kami menganggap, bahwa mereka orang yang berilmu dan akan menyikapinya dengan bijaksana dan sama sekali tidak pernah kami sampaikan kepada awam, karena dikhawatirkan adanya penafsiran yang keliru dikarenakan ketiadaan ilmu dan pemahaman agama yang mumpuni,” ujarnya.

Lebih jauh ditegaskan Ustaz Majid, bahwa sebenarnya mereka para ulama bisa saja menelusuri secara jelas pernyataan Abuya Syekh Amran Waly dengan survei dan turun langsung ke Labuhan Haji, Aceh Selatan, agar tafsir yang dianggap meresahkan ini dapat terjawab dengan mengedepankan ilmu dan pemahaman agama yang baik.

“Kami siap untuk memfasilitasinya. Tetapi ini tidak dilakukan kepada kami.
Dan saya sangat setuju dengan Ustaz Sanusi yang mengatakan agar terjun langsung dan tanyakan kepada Abuya Syekh Amran Waly dan sekali lagi, akan maksud yang beliau sampaikan dan kami siap memfasilitasinya,” sambungnya tegas.

Selanjutnya disampaikan Ustaz Majid terkait hasil FGD MUI Sumut, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, agar ini terjadi keseimbangan informasi yang berkembang.

“Mencermati hasil diskusi ke dalam beberapa kesimpulan yaitu, untuk point pertama, ini sudah saya jelaskan pada point yang di atas, silakan rujuk kembali.

Kemudian pada point kedua tentang tuduhan bahwa MPTTI tidak selaras antara fikih dan tasawuf, ini adalah tuduhan yang tidak benar. Justru MPTTI menyelaraskan antara fikih dan tasawuf, bahkan tasawuf itu adalah untuk mengokohkan syariat. Inilah yang diusung oleh Abuya Syekh Amran Waly,” ujarnya.

Selanjutnya pada point ketiga, tampak bahwa ini adalah pandangan syariat. MPTTI bukan memandang Muhammad secara syariat tetapi secara hakikat.

“Silakan lihat dalam kitab Tuhfatul Mursalah karangan Syekh Muhammad bin Fadhlullah Al-Burhafuri Al-hindi dan syarahannya karangan Syekh Arsalan bin Ya’qub bin Abdullah Ad-Dimsyaqi hal.185 yang isinya: ‘dan bahwa segala yang maujud dari sekira-kira wujud itu adalah ‘ain Haq Subhanahu wa ta’ala, akan tetapi pada ta’yinnya yaitu pada zhohirnya itu bukan Haq Subhanahu wa ta’ala’.

Berkata sayyidi Muhyiddin dalam kitab syarah al-Hikam halaman 19 yang isinya: ‘Siapa yang menyaksikan makhluk tidak ada perbuatan bagi mereka, maka sungguh ia telah menang’ dan ‘siapa yang menyaksikan makhluk tidak ada hidup bagi mereka, maka sungguh ia telah mendapat keuntungan’.

Dan siapa yang menyaksikan makhluk tidak ada wujud, maka sungguh ia telah wushul atau sampai kepada Allah.

Karena itu disimpulkan Ustaz Majid bahwa kita harus dapat memahami tauhid zat yaitu menafikan yang baharu dan menetapkan yang qadim.

“Orang yang bertauhid zat dia bisa fana pada Allah, dengan kata lain bahwa, baik manusia dan alam semesta fana, yang ada hanya Allah semata. Jadi itulah maksudnya ‘Muhammad itu Allah’. Muhammad yang telah hilang wujudnya yang ada hanya wujud Allah. Inilah pandangan secara hakikat,” urai Ustaz Majid dalam kesimpulannya dalam menanggapi hasil rekomendasi FGD MUI Sumut tersebut. * SN-AS