Sosok  

Putra Dolok Sigompulon Memimpin Bawaslu Medan

Putra Dolok Sigompulon Memimpin Bawaslu Medan
Payung Harahap bersama Safrida dan Aulia Sari Dewi Harahap. Foto: Ist

ANAK desa mengabdi di kota memang hal biasa. Namun perjalanan pria yang satu ini sedikit luar biasa, karena dia sekolah, sukses memimpin organisasi mahasiswa hingga menjadi pimpinan komisioner pengawas demokrasi, dalam perhelatan mencari sosok Walikota memimpin Medan Metropolitan. Pria satu ini putra kelahiran 22 September 1987 di Desa Simaninggir, Kecamatan Dolok Sigompulon, Padanglawas Utara (Paluta), Sumatera Utara.

Anak sulung tujuh bersaudara buah perkawinan Siddik Harahap dengan Sitiorom Ritonga ini, cukup lama memperjuangkan pendidikannya di tengah keterbatasan sarana desa.

Dia adalah Payung Harahap suami tercinta Safrida SH MH, yang sejak tahun 2018 hingga kini dipercaya sebagai Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Medan.

Ayah dari Aulia Sari Dewi Harahap ini tak pernah membayangkan menjadi tokoh di Kota Medan. Maklum masa kecilnya lebih lama hidup di desa yang serba memprihatinkan.

Kepada Alihot Sinaga dari Skalanews, belum lama ini, Payung Harahap mengisahkan masa kecilnya sebelum melangkah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Al-Azhar Medan.

Bersekolah di Sekolah Dasar Nahula di Desa Nahula Jae, Payung Harahap menempuh sekolah dan kembali ke rumah hanya bisa dengan berjalan kaki. “Satu jam ke sekolah, satu jam pulang ke rumah, setiap hari sekolah berjalan kaki selama enam tahun di bangku SD,” katanya.

Selain bersekolah di SD, dia dibekali orangtuanya mengaji, mengenali Huruf Hizaiyah sebagai bekal iman dan takwa seorang muslim. “Sudah menjadi kebiasaan bagi saya sebelum tidur belajar malam mengulangi pelajaran sekolah dan mengaji. Saya lalui dengan penerangan lampu api, karena listrik belum ada di kampung kami,” kenangnya.

Tamat SD tahun 1999, dia pun disekolahkan orangtuanya di Madrasah Tsanawiyah dikelola Yayasan Pesantren Alliful Ikhwan SAA, Kecamatan Silangkitang, Labuhanbatu, yang sekarang sudah menjadi Labuhanbatu Selatan. Menjadi santri jauh dari orangtua demi menimba pengetahuan agama Islam. Tamat Tahun 2002, Payung Harahap melanjutkan Madrasah Aliyah di Pesantren yang sama.