Medan  

Prof Candra Wijaya: Kerjasama Lintas Sektoral Diperlukan untuk Menekan Laju Kejahatan

Prof Candra Wijaya: Kerjasama Lintas Sektoral Diperlukan untuk Menekan Laju Kejahatan
Prof Dr Candra Wijaya,.M.Pd Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Medan. (Foto: AS)

Medan-Skalanews | Menurut Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam UIN Sumatera Utara Prof Dr Candra Wijaya, M.Pd, benang merah yang dapat dikaitkan dengan munculnya kasus begal adalah kombinasi dari beberapa faktor sosial dan ekonomi yang terjadi di suatu wilayah atau negara, juga beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kejahatan.

“Ada beberapa faktor yang mungkin berperan dalam munculnya kasus begal yang kian marak hingga saat ini, di antaranya terjadinya ketimpangan ekonomi yang signifikan antara kelompok-kelompok sosial yang dapat menciptakan kebutuhan yang mendesak, untuk mencari cara-cara alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beberapa pelaku begal mungkin melakukan tindakan kriminal karena keputusasaan finansial,” ujar Prof Candra Wijaya, Selasa (4/7/2023) di Medan.

Hal berikutnya menurut pakar Manajemen Pendidikan Islam ini, tingkat pengangguran disebabkan tingginya angka pengangguran di suatu wilayah dapat menyebabkan meningkatnya angka kejahatan, termasuk kasus begal.

Orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan atau kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang stabil, mungkin melihat tindakan kriminal sebagai sumber penghasilan.

“Hal berikutnya yaitu kurangnya pendidikan disebabkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas dapat menyebabkan kurangnya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini dapat mendorong beberapa individu untuk terlibat dalam kegiatan kriminal, termasuk begal,” tambahnya.

Faktor yang tidak ketinggalan, soal ketidakstabilan sosial yang berakhir menjadi konflik sosial, ketegangan antara kelompok-kelompok masyarakat, atau kurangnya keamanan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuhnya kasus begal. Ketidakstabilan sosial dapat mempengaruhi tindakan individu dan mendorong mereka untuk melakukan kejahatan.

“Faktor berikutnya kurangnya kehadiran Kepolisian. Jika kepolisian tidak hadir atau tidak efektif dalam menjaga keamanan di suatu wilayah, peluang kejahatan seperti begal dapat meningkat. Kurangnya penegakan hukum yang memadai dapat memberikan kesempatan bagi para pelaku begal untuk bertindak tanpa terkena sanksi yang tegas,” ujarnya.

Penting untuk dicatat, bahwa faktor-faktor ini mungkin berbeda-beda di setiap kasus dan dapat dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang unik dalam suatu wilayah.

Solusi jangka panjang untuk mengurangi kasus begal, melibatkan upaya pencegahan kejahatan yang holistik seperti peningkatan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, perbaikan ketimpangan ekonomi, peningkatan kehadiran kepolisian, serta promosi stabilitas sosial dan keamanan masyarakat.

“Memang sulit untuk menentukan dengan pasti siapa yang harus disalahkan secara umum dalam konteks munculnya kasus begal ini. Sebab kasus begal melibatkan individu-individu yang terlibat dalam tindakan kriminal, dan setiap individu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri,” sambung Dosen Pascasarjana UIN Sumut ini.

Namun demikian, ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap munculnya kasus begal dan yang perlu diperhatikan dalam upaya penanganannya. Beberapa di antaranya adalah pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi warganya.

Upaya yang diperlukan termasuk peningkatan kehadiran kepolisian, perbaikan sistem hukum dan penegakan hukum, serta pemberian akses yang lebih baik terhadap pendidikan dan pekerjaan.

“Sistem pendidikan harus mampu diakses masyarakat, karena hanya lewat pendidikan yang berkualitas atau kurangnya pemenuhan kebutuhan pendidikan dapat menyebabkan terjadinya ketidakstabilan sosial dan kejahatan. Sistem pendidikan yang baik harus memberikan keterampilan dan peluang yang diperlukan bagi individu, untuk menjadi anggota produktif masyarakat,” ungkapnya tegas.

Hal lainnya adalah ketimpangan sosial dan ekonomi yang signifikan dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kasus begal. Ketidakadilan dalam distribusi kekayaan dan kesempatan, dapat memicu ketidakpuasan sosial dan meningkatkan tekanan finansial pada kelompok tertentu.

“Sementara itu individu yang terlibat dalam tindakan begal, bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka harus bertanggung jawab atas konsekuensi dari perbuatan kriminal yang mereka lakukan,” sambutnya.

Penting untuk memahami bahwa masing-masing faktor ini dapat berinteraksi dan saling memengaruhi. Oleh karena itu, solusi yang efektif untuk mengurangi kasus begal biasanya melibatkan pendekatan yang komprehensif, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, masyarakat, dan individu-individu yang terlibat.

“Sekolah dan guru memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kasus begal. Sekolah dan guru dapat menyelenggarakan program pendidikan kesadaran yang memberikan informasi kepada siswa tentang bahaya begal, cara melindungi diri, dan konsekuensi dari tindakan kriminal. Mereka dapat membantu siswa memahami pentingnya keamanan pribadi dan menjaga kewaspadaan di lingkungan sekitar,” sambung peneliti UIN SU ini.