Mengubah Nasib Sendiri, Jangan Hidup Sia-sia di Muka Bumi

Merubah Nasib Sendiri, Jangan Hidup Sia-sia di Muka Bumi
Al Ustad Kusnadi Ragil Imam SPdI. Foto: Ist

MedanSkalanews:  “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. Ar-Rad: 11)

Manusia dilahirkan ke dunia sebagai makhluk yang baik, bahkan di antara makhluk lain manusialah yang paling sempurna, karenanya harus mampu mengubah nasib sendiri.

Oleh sebab itu mari kita isi berkah kesempurnaan tersebut dengan tidak malas untuk selalu bersyukur dan tawakal kepada Allah. “Mengubah Nasib Sendiri, Jangan Hidup Sia-sia di Muka Bumi,” kata Al Ustaz Kusnadi Ragil Imam SPdI dalam siraman rohani pada pengajian perwiridan di Lingkungan VI, Jalan Jermal VI Medan Denai, Selasa malam kemarin.

“Alangkah bodohnya jika seseorang yang sempurna itu menyimpan sifat malas, tidak mau bersyukur memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah,” sebut Ustaz.

Hidup Sia-sia

Dikatakannya, Nabi Muhammad Rasulullah Saw dalam riwayatnya menyebutkan paling tidak suka dengan orang yang malas. Seorang muslim harus memiliki kemampuan dalam mengisi hidupnya dengan prestasi dan ilmu.

Dengan ilmu seseorang akan memiliki kemampuan untuk bisa berprestasi dan dengan ilmunya pula manusia akan bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Tetapi semua itu akan sirna jika manusia itu malas, sehingga tak memiliki ilmu akhirnya hidupnya sia-sia di muka bumi Allah ini.

“Bisa disebut, bahwa orang yang malas membuat hidupnya tidak berkah, sebab tidak memiliki manfaat,” sebut Ustaz Kusnadi.

Punya Manfaat

Dikatakan Ustaz, ada beberapa tuntunan agar seorang muslim itu memiliki manfaat dalam kehidupannya dan itu sangat disukai Nabi.

Beberapa sifat harus dimiliki oleh seorang muslim di antaranya melakukan suatu pekerjaan haruslah secara ihsan, sehingga berdaya guna serta bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Adapun langkah-langkah untuk menjadi ihsan tersebut di antaranya bekerja dengan ikhlas, dalam arti tulus tanpa ada paksaan dan menganggap bahwa apa yang kita lakukan adalah ibadah.

Kita bekerja untuk penghidupan keluarga, anak istri merupakan salah satu ibadah, asalkan semua yang kita lakukan sesuai aturan agama dan terpenting memiliki manfaat.