Ragam  

Kuli Tinta Bikin Gerah, Bantah!

Kuli Tinta Bikin Gerah, Bantah!
Penulis. Foto:dok-ist

KULI Tinta menulis berita punya kode etik. Bangsa ini menjadikan hukum sebagai panglima. Kalau tulisannya bikin gerah, bantah! Jangan cepat kali meneror, mengintimidasi, membakar apalagi sampai membunuhnya.

Juru warta, jurnalis, wartawan, pewarta, ekstrimnya kuli tinta. Ragam sebutan bagi orang yang berprofesi dalam kegiatan menulis berita dan menyampaikannya ke khalayak masyarakat, istilah krennya publik.

‘Makhluk’ ini sedari dulu menjadi musuh bebuyutan banyak kalangan yang merasa aktivitas dan jabatannya terganggu akibat berita.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers ternyata menimbulkan banyak kasus kriminalisasi melanda insan jurnalistik di tanah air. Pengaturan yang cukup tegas tentang Kode Etik Wartawan atau Kode Etik Jurnalistik dalam UU itu, justru seakan membuat banyak pihak yang merasa gerah.

Kewajiban konfirmasi untuk mencapai keberimbangan informasi berita menjadi celah timbulnya kezaliman baru. Wartawan konfirmasi menjadi momen mengenali, watawan konfirmasi tidak dilayani, saat berita muncul objek berita uring-uringan, bahkan tanpa menggunakan hak jawab, percaya diri mengadu ke Dewan Pers. Wartawan konfirmasi juga kerap dijadikan ajang negosiasi, membungkam cerita dengan kompensasi.

Belakangan menyebut seseorang sebagai wartawan tidak boleh sembarangan. Sebab belum tentu semua orang yang beraktivitas sebagai kuli tinta dapat disematkan dengan sebutan profesi ini. Wartawan yang dapat dikendalikan atau disanksi dengan UU Nomor 40 Tahun 1999 itu hanya dari mereka yang mengantongi pengakuan ‘kompeten’ oleh Dewan Pers, melalui jalur Uji Kompetensi Wartawan (UKW), termasuk media tempatnya bekerja yang kompeten menyematkan logo Dewan Pers di laman depan medianya.