Keripik Ubi Produk Cemilan dari Marelan

Keripik Ubi Produk Cemilan dari Marelan
Bunda Elsa sedang melayani pembeli, bersama produk keripik ubi yang dijualnya dengan berbagai rasa. Foto:pkar

MedanSkalanews:  Saat ini produk jajanan berupa keripik ubi semakin banyak dijual, baik di warung-warung maupun secara retail. Bahkan produk keripik ubi bisa disebut sebagai makanan cemilan untuk segala kelas, alias semua orang bisa menikmatinya.

Produk keripik ubi sejak lama dikenal sebagai salah satu makanan ringan yang disukai banyak orang. Selain enak dan gurih rasanya, keripik ubi alias singkong juga bisa dijadikan teman untuk ngemil, di mana dan kapan saja.

Harganya yang relatif terjangkau membuat makanan ringan ini digemari banyak orang. Bahkan keripik ubi saat ini bisa disebut sebagai makanan elit, karena tidak saja dijual di warung-warung, tetapi sudah menjarah pertokoan dan supermarket kelas atas bahkan dijual secara online.

Membahas masalah keripik ubi alias singkong, di Kota Medan dan sekitarnya banyak lokasi tempat penjualan, terutama di tempat ramai umumnya di pinggir jalan raya yang menjajakan aneka makanan ringan.

Tetapi kali ini kita berkunjung langsung ke tempat pembuatan sekaligus penjualannya, berada di kawasan Kecamatan Medan Marelan tepatnya di ruas Jalan Marelan, Pasar VI Andan Sari.

Berbagai Pilihan Rasa

Di warung sederhana tersebut selain dijual keripik ubi dengan berbagai rasa, juga menjual keripik pisang yang juga memiliki rasa gurih dijadikan sebagai cemilan.

Namanya Dapur Keripik Elsa yang dikelola oleh Bunda Elsa.

Ditempat yang tidak jauh dari Pasar Andan Sari tersebut setiap hari diproduksi keripik singkong dan pisang. Harganya cukup terjangkau yaitu cuma  Rp5.000 saja per bungkus kemasan sedang.

Tetapi tidak sedikit para konsumen membeli dalam jumlah banyak atau kiloan, terutama bagi pembeli yang sedang dalam perjalanan jauh untuk dijadikan oleh-oleh.

Ada beberapa rasa yang ditawarkan yaitu rasa balado, pedas, rasa jagung dan original, semuanya enak dan lezat.

Salah satu yang buat menarik pembeli saat belanja di tempat ini yaitu konsumen bisa melihat langsung cara menggorengnya sekaligus membuat, yang masih dengan cara tradisional alias masih menggunakan tangan.

Menurut Bunda Elsa, usahanya tersebut baru dirintis sejak setahun belakangan, ternyata mendapat sambutan masyarakat konsumen terutama para pelintas yang sedang dalam perjalanan.

“Awalnya kita hanya coba-coba, tetapi setelah semakin banyak peminatnya, maka diseriusin, ” kata Bundanya si Elsa tersebut.

Setiap hari produksi keripik ubi yang mereka buat menghabiskan paling sedikit 200 kilogram ubi singkong, dan beberapa tandan pisang manis yang masih mentah tetapi sudah tua.  Bahan bakunya diperoleh dari pedagang di Pasar Andan Sari, atau terkadang ada petani yang mengantarkan langsung ke tempat mereka membuka warung tersebut.  SN-KB