Kasus Pencabulan di Wilkum Polres Langkat Belum Jelas Juntrungnya

Kasus Pencabulan di Wilkum Polres Langkat Belum Jelas Juntrungnya
ES (kiri) bersama dengan Kuasa Hukumnya Dwi Ngai Sinaga. Foto: Ist

StabatSkalanews: Ada kasus pencabulan di wilayah hukum (Wilkum) Polres Langkat hingga berita ini tayang belum jelas juntrungnya. Padahal ayah korban berinisial ES telah melaporkannya ke Polres Langkat.

Kuasa Hukum korban Dwi Ngai Sinaga, Rabu (29/12) di Stabat kepada media mengungkapkan kronologis peristiwa pencabulan yang dialami keluarga kliennya di Kecamatan Besitang, Langkat belum lama ini.

Pascalaporan ayah korban di Polres Langkat, terduga pelaku berinisial AS, 19 sudah tak terlihat lagi di kediamannya di Dusun VII, Kebun Ubi, Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu, Langkat.

Cerita ES saat didampingi kuasa hukumnya, peristiwa memalukan itu terjadi pada 17 Desember 2021 lalu. Saat itu ES menyuruh putrinya mengambilkan makanan untuk mamak (Ibu) nya.

Karena tak kunjung membawa makanan, ES pulang menyusul ke rumahnya memastikan keberadaan putinya. ES terkejut begitu mengetahui korban tidak lagi berada di rumah.

“Dan saya ke rumah untuk memanggil, dan sudah tidak ada lagi. Saya periksa dan sudah tidak ada lagi,” ucapnya.

Kemudian, ia juga meminta kepada anaknya yang lain mencari keberadaan korban. Akan tetapi, berapa jam dicari korban juga tidak ketemu.

“Saya cari di sekitar perkampungan, sudah tidak ada juga. Dan saya suruh abangnya untuk cari di mana keberadaan anak saya. Saat malam, ternyata anak saya sudah berada di rumah pelaku,” ungkap ES.

Cerita ES lagi, dia melihat korban dalam keadaan lesu dan murung. “Dibilangnya kurang sehat, dan lalu saya bawa untuk berobat ke klinik kampung,” ujarnya.

Namun, entah bagaimana, ujar ES, sebelum membawa pulang, keluarga pelaku malah menahan korban.

Dari keterangan ES, keluarga pelaku dapat mengizinkan korban pulang setelah meneken surat perjanjian, bahwa jika putrinya dibawa pulang, maka urusan selesai dengan pihak keluarga si pelaku.

“Memang saya menandatangani surat untuk anak saya agar bisa saya bawa berobat dan pulang,” katanya.

Saat di klinik, perawat mengatakan bahwa korban sudah disetubuhi secara paksa diduga pelaku memberikan obat bius kepada korban.

“Anak saya juga mengalami luka lain pada pergelangan tangan,” ujarnya.

Merasa ada yang tidak beres, ES membuat laporan ke Polsek. Namun, pihak Polsek mengarahkan ES agar membuat laporan ke Polres Langkat soal kasus pencabulan tersebut.

“19 Desember 2021 saya datang ke Polres Langkat untuk membuat laporan. Namun anehnya, hingga saat ini saya belum juga mendapatkan kepastian dari Polres Langkat soal laporan pencabulan yang dialami anak saya,” ujar ES bernada kecewa. SN-R