Sosok  

Hj Khalija Erde, Sosok Petugas Jemaah Uzur yang Tidak Tergantikan Setiap Musim Haji

Hj Khalija Erde, Sosok Petugas Jemaah Uzur yang Tidak Tergantikan Setiap Musim Haji
Hj Khalija Erde, Sosok Petugas Jemaah Uzur yang Tidak Tergantikan Setiap Musim Haji. (Foto: Ist)

Oleh : Torang Rambe

“Harus banyak sabar dan menikmati kerja yang penuh ikhlas, sehingga bekerja itu menjadi nikmat”. (Hj Khalija Erde, 2023)

Kecil-kecil cabai rawit, biar kecil yang penting pelayanannya. Agaknya itulah yang paling pas menggambarkan sosok seorang Hj Khalija Erde. Yah cabai rawit memang kecil tapi kandungan dan khasiatnya sangat dahsyat, terlebih untuk metabolisme tubuh dan pembakaran kalori.

Patut dimaklumi, bahwa Bunda, begitu panggilan mesra untuk Khalija Erde, bukanlah cabai rawit tapi sebagai metafora alias kiasan dirinya yang secara fisik untuk ukuran Indonesia tergolong kecil, tapi kehadirannya di tengah jemaah haji khususnya melayani jemaah haji uzur, kini istilahnya Lansia, begitu besar dan menggoda.

Bunda sudah kerja di jemaah uzur sejak Tahun 2000, itu artinya sudah 23 tahun masa pengabdiannya dalam melayani para orang tua sepuh yang membutuhkan energi yang berganda.

Tidak sulit mengenali dirinya yang humble, senyuman khasnya, low profile, ramah dan penuh persahabatan. Bunda orangnya baik dan selalu mempermudah orang terlebih bagi jemaah haji lansia.

Bunda selalu membantu orang dengan tidak memandang siapa, apa statusnya, kaya atau
miskin tetap dibantunya. Ketika ia disuruh untuk mengerjakan sesuatu, ia akan selalu mengiyakan dan tidak pernah ada raut wajah kesal, yang selalu ia tonjolkan adalah senyuman khasnya yang merekah.

Sejak ia masuk di haji, yang menjadi lahan garapannya adalah jemaah uzur. Untuk menyebut di antara sahabat lamanya dalam dunia peruzuran adalah Hj Murni dan Juhairiyah. Untuk Datuk H Agusdin dan ibu Hj Rita Nurai Nasution dia menyebutnya sebagai orang tua.

Bunda adalah sosok petugas jemaah uzur yang tidak tergantikan di setiap musim haji karena totalitasnya, keuletannya, dan ketulusannya. Ia tidak pernah merasa jijik membersihkan kotoran jemaah haji, menampung kencing dan kotorannya.

Ia selalu membersihkan dan memandikan jemaah haji lansia/uzur, dan juga menyulangi makannya. Kebiasan itu tentu juga bagian dari abdinya pada sang suami tercinta yang menderita sakit selama 5 tahun diurusnya dengan telaten. Sampai akhirnya sang arjuna menjumpai sang Khaliq.

Dedikasinya yang begitu tinggi mengurus jemaah lansia atau uzur sangat luar biasa, maka Datuk Haji Agusdin menjulukinya petugas jemaah uzur (Petruz).

Jika Datuk menjulukinya dengan Petruz, maka mungkin bagi kita semua ia juga layak kita berikan julukan ‘Ratu Pelayan Lansia’. Ratu adalah gelar kebangsawanan di Indonesia dan dapat merujuk kepada dua hal yaitu, wanita yang memimpin kerajaan atau istri dari raja.

Namun ratu di sini yang dimaksud adalah tokoh yang menonjol dalam suatu hal. Oleh karena itu, Bunda menjadi Ratu atau pemimpin pelayanan para lansia atau jemaah uzur.

Bukan suatu hal yang berlebihan bila disebut ‘Di mana ada lansia di situ Bunda Erde berada’, atau sebaliknya ‘di mana Bunda Erde ada, di situ pasti ada lansia’.

Sesungguhnya pilihan tokoh kita di grup ini mengangkat bunda Erde bukan tanpa alasan. Paling tidak, ada lima alasan Bunda kita sebut sebagai Ratu Pelayan Lansia atau Uzur yakni :

  1. Mengurus jemaah lansia bagi Bunda Hj Khalija Erde adalah panggilan jiwa. Ia merasa terpanggil untuk melayani jemaah dan memberikan yang terbaik untuk mereka.
  2. Melayani jemaah khusus lansia bagi bunda adalah melatih dirinya untuk bersabar.
    Kata bunda, kalau saya sudah dipanggil untuk kerja di bagian jemaah uzur,
    maka wajib bagi saya untuk melayani.
    Maju tak gentar melayani jemaah uzur, begitulah kira-kira beliau besenandung. Ia menolak senandung maju tak gentar melayani uzur yang bayar. Kalau ditanya masalah honor, bagi bunda hanya klasik saja yakni ada kerja ada imbalannya.
    Terkait dengan uang tip dari jemaah, jauh-jauh ia menepis dalam benaknya. Namun pada saat pelayanan, nilai sudah diberikan maka angka akan tiba. Terkadang kata Bunda, rezki datangnya yang tidak diduga, apalagi jemaah memberinya penuh dengan senang dan puas.
  3. Melayani jemaah dijadikannya sebagai kepuasan batin yang sulit digambarkan secara konkret, tapi ia bersifat abstrak dan individual.
  4. Ia menikmati pekerjaan dengan happy. Bagi bunda melayani jemaah uzur harus dibungkus dengan ketulusan dan keikhlasan, sehinga mendatangkan kegembiraan bagi kita. Sebab, katanya, kalau kita tidak happy dan tulus, maka akan mudah kita lelah dan mungkin kurang energi. Karena dasar maupun basis melayani lansia tidak tulus, sehingga banyak orang yang mundur teratur.
  5. Mengurus lansia harus ada dalam niat kita, sama seperti mengurus keluarga kita. Inilah salah satu kekuatan bunda dalam menjalankan tugas tahunan yang diberikan para petinggi Kementerian Agama (Kemenag) kepada beliau, di mana tahun ini juga Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Ahmad Qosbi, masih menaruh yakin kepada Bunda Erde.

Bunda berpesan pada juniornya di jemaah uzur atau para pendatang baru, usahakan jemaah percaya kalau kita petugas, sabar dalam melayaninya dan tidak jijik jika sewaktu-waktu menghadapi jemaah yang pipis maupun BAB alias miting.

Baiklah bunda, terima kasih atas teladanmu selama ini memberikan pelayanan terbaik bagi lansia. Semoga bunda sehat selalu dan masih bisa memberikan layanan terbaik bagi jemaah lansia kita, terutama tahun ini yang sangat luar biasa.

Akhirnya, Bunda teringat pesan Fred Rogers “Hidup Adalah Untuk Pelayanan”. ***

  • Penulis adalah Kabid Penerimaan dan Pemberangkatan Haji